Prosedur operasi standar dan teknologi baru Aviasi

ANALISIS KOMPONEN UTAMA (PCA) DALAM PEMBANGUNAN DAN VALIDASI KERANGKA PENILAIAN KOMPETENSI TEKNISI PERAWATAN PESAWAT

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meninjau dan memvalidasi struktur faktor penilaian keterampilan teknisi perawatan pesawat terbang menggunakan Analisis Komponen Utama (PCA), sebuah teknik reduksi dimensi. Kompetensi teknisi penerbangan (meliputi pengetahuan, keterampilan psikomotorik, dan kualitas personal) merupakan prasyarat esensial bagi kesiapan terbang dan keselamatan penerbangan. Dengan memanfaatkan data survei dari 452 responden, yang dievaluasi berdasarkan 51 item pada skala Likert, studi ini mengidentifikasi enam komponen utama yang terstruktur ulang dari 11 faktor awal. Proses reduksi dimensi melalui PCA dan rotasi Varimax mengkonvergensi item-item menjadi enam faktor baru: (1) Kompetensi dan Etos Kerja; (2) Pengetahuan, Keselamatan, dan Pemeliharaan; (3) Komunikasi Interpersonal; (4) Pemeliharaan Standar Kualitas; (5) Berpikir Kritis dan Kreativitas; dan (6) Pemecahan Masalah dan Penciptaan Nilai. Temuan ini memberikan kerangka penilaian kompetensi yang terstruktur dan teruji validitasnya, yang dapat digunakan oleh organisasi penerbangan untuk manajemen sumber daya manusia yang efektif, perencanaan kompetensi, dan peningkatan profesional berkelanjutan (Continuous Professional Development).

Kata Kunci: Kompetensi Teknis, Perawatan Pesawat, Analisis Komponen Utama (PCA), Analisis Faktor Eksploratori (EFA), Validitas Konstruk.

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Signifikansi Kompetensi

Industri aviasi dicirikan oleh tingkat risiko dan persyaratan keselamatan yang sangat tinggi. Dalam konteks ini, teknisi perawatan pesawat memainkan peran krusial dalam memastikan kelaikan terbang (airworthiness) dan efektivitas operasional armada. Secara fundamental, kompetensi teknis seorang insinyur kedirgantaraan tidak hanya bergantung pada pengetahuan dan keterampilan profesional, tetapi juga pada atribut personal dan moral yang krusial bagi kepatuhan terhadap prosedur operasi standar (Rahman & Idris, 2023).

Kerangka penilaian kompetensi yang valid dan efisien merupakan alat manajemen SDM yang vital, memungkinkan organisasi untuk mengidentifikasi kesenjangan keterampilan (skill gaps), menempatkan personel yang tepat, dan merencanakan pengembangan karier (Darmawan & Putra, 2022). Oleh karena itu, makalah ini berfokus pada pengembangan dan validasi struktur faktor penilaian kompetensi untuk menjembatani kesenjangan antara pelatihan teoritis dan kinerja kerja praktis.

1.2 Permasalahan dan Tujuan Penelitian

Sistem evaluasi kinerja yang ada sering kali menghadapi kesulitan dalam menyediakan skor objektif yang valid karena kompleksitas dimensi kompetensi (pengetahuan, keterampilan psikomotorik, kognitif, dan interpersonal). Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk:

  1. Mengidentifikasi dan memvalidasi struktur faktor penilaian kompetensi teknisi perawatan pesawat melalui Analisis Komponen Utama (PCA).

  2. Mengembangkan interpretasi yang lebih luas mengenai kinerja penilai (examiner) dan komponen penilaian untuk menghasilkan kerangka penilaian yang robust.

  3. Menyediakan implikasi praktis untuk revisi kerangka kualifikasi teknisi di masa mendatang.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Pentingnya Penilaian Kompetensi

Penilaian kompetensi didefinisikan sebagai proses sistematis untuk mengumpulkan data praktik dan menentukan apakah tingkat kinerja profesional seseorang memenuhi standar yang ditetapkan oleh organisasi (Lee & Chang, 2021). Dalam perawatan pesawat, penilaian ini harus mengukur kemampuan teknisi untuk menganalisis secara logis, menerapkan pengetahuan domain, dan menunjukkan ketangkasan (dexterity) psikomotorik yang diperlukan untuk kepatuhan terhadap spesifikasi keselamatan penerbangan.

Faktor penilai (examiner) juga sangat penting; penilai yang berpengalaman (expert examiner) cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik tentang persyaratan platform dan mampu memfasilitasi pengembangan ide teknisi yang inovatif (Setiawan & Yuniarti, 2020).

2.2 Analisis Faktor Eksploratori (EFA) dan PCA

Analisis Faktor Eksploratori (EFA) adalah teknik statistik multivariat yang bertujuan untuk mengurangi sejumlah besar variabel (item) menjadi faktor yang lebih kecil (konstruk laten) dan memeriksa struktur hubungan antar variabel (Hair et al., 2019). EFA sangat penting dalam validasi konstruk instrumen survei.

Analisis Komponen Utama (PCA) adalah metode ekstraksi faktor yang umum digunakan dalam EFA ketika tujuannya adalah mereduksi dimensionalitas. PCA mengidentifikasi komponen-komponen yang menjelaskan varians maksimum dalam data.

2.3 Rotasi dan Interpretasi Faktor

Setelah ekstraksi faktor, rotasi digunakan untuk mencapai struktur faktor yang lebih sederhana dan mudah diinterpretasikan. Rotasi Varimax ortogonal, yang digunakan dalam penelitian ini, bertujuan untuk memaksimalkan pemuatan item pada satu faktor dan meminimalkan pemuatan pada faktor lainnya, sehingga menghasilkan solusi yang tidak berkorelasi dan parsimonious (Chen & Wang, 2021).

3. METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian dan Instrumen

Penelitian ini menggunakan metodologi deskriptif-kuantitatif berbasis survei kuesioner. Kuesioner dirancang dengan 51 item yang terdistribusi dalam 11 variabel (konstruk) awal (FS, QP, PI, OS, PS, IG, PM, LS, PD, RM, HR) yang diusulkan untuk menilai kompetensi teknisi. Jawaban dinilai menggunakan skala Likert 5-poin, dari “1” (Sangat Tidak Setuju) hingga “5” (Sangat Setuju).

Variabel kontrol seperti tahun layanan (Y1: <20 tahun, Y2: 20–30 tahun, Y3: >30 tahun), jenis armada (F: Tempur, T: Transportasi, H: Helikopter), dan cabang industri (A: Persenjataan, M: Teknik Mesin, E: Teknik Listrik) juga dimasukkan.

3.2 Sampel dan Reliabilitas Data

Total sampel yang digunakan dalam analisis adalah 452 responden yang berpartisipasi dalam penilaian kompetensi teknisi pesawat.

Uji Reliabilitas: Uji reliabilitas awal menggunakan pilot study (N=100) menghasilkan nilai Cronbach’s Alpha () sebesar , yang menunjukkan konsistensi internal kuesioner berada pada tingkat yang sangat baik.

3.3 Prosedur Analisis Statistik

Data dipindahkan ke SPSS (versi 21.0) dan dianalisis melalui tahapan berikut:

  1. Reliabilitas: Perhitungan  untuk validasi instrumen.

  2. Reduksi Dimensi (EFA/PCA):

  • PCA digunakan untuk ekstraksi faktor (karena jumlah variabel > 30).

  • Kriteria ekstraksi: Kriteria Kaiser (Nilai Eigen > 1), Scree Test, dan persentase kumulatif varians total.

  • Rotasi: Rotasi Varimax ortogonal untuk struktur faktor yang tidak berkorelasi.

  1. Analisis Inferensial: Uji-t sampel independen digunakan untuk menentukan hubungan antara faktor-faktor yang baru dibuat dan variabel independen (tahun layanan, jenis armada). Tingkat signifikansi diatur pada  (tingkat kepercayaan 95%).

4. HASIL ANALISIS FAKTOR EKSPLORATORI (EFA)

4.1 Ekstraksi Faktor dan Rotasi

Analisis kesesuaian data menunjukkan bahwa data memadai untuk EFA. Berdasarkan kriteria Kaiser, uji scree, dan persentase kumulatif varians, PCA mengidentifikasi enam faktor (komponen) yang menjelaskan sebagian besar varians dalam data.

Rotasi Varimax berhasil konvergen setelah 6 iterasi. Setelah proses rotasi matriks komponen, 28 dari 51 item asli dipertahankan karena menunjukkan pemuatan faktor (factor loading) yang substansial pada komponen yang diusulkan.

4.2 Struktur Faktor yang Direvisi (RCM)

Berdasarkan pemuatan faktor yang ditunjukkan dalam Matriks Komponen Rotasi (RCM), 11 faktor awal dikelompokkan kembali dan diberi nama baru menjadi enam komponen yang lebih ringkas dan interpretif:

| Komponen (Nama Baru) | Konstruk dan Fokus Utama | Item Awal yang Dikelompokkan (Contoh) |

| Comp-I: Kompetensi dan Etos Kerja | Membangun budaya organisasi, motivasi staf, manajemen umpan balik, dan ketahanan personal. | Kemampuan mengelola profil kerja, memotivasi staf teknis, menggunakan teknik ketahanan. |

| Comp-II: Pengetahuan, Keselamatan & Pemeliharaan | Pengetahuan teknis, identifikasi bahaya, dan kepatuhan terhadap praktik pemeliharaan yang aman. | Menilai keterampilan teknisi, identifikasi risiko keselamatan, merekomendasikan tindakan perbaikan. |

| Comp-III: Komunikasi Interpersonal | Efektivitas komunikasi di tempat kerja dan kontribusi ide teknisi. | Menilai kesenjangan komunikasi, teknisi menyumbangkan ide. |

| Comp-IV: Pemeliharaan Standar Kualitas | Pengawasan, pemantauan program kualitas, dan kepatuhan terhadap regulasi terkait mutu. | Mengukur kemampuan mengawasi program kualitas, mengevaluasi standar kualitas. |

| Comp-V: Berpikir Kritis & Kreativitas | Mendorong pemikiran kreatif dan kritis untuk pemecahan masalah. | Mendorong pemikiran kreatif, menunjukkan pemikiran kritis untuk pemecahan masalah. |

| Comp-VI: Pemecahan Masalah & Penciptaan Nilai | Analisis langkah pemeliharaan, identifikasi tugas yang tidak bernilai tambah, dan respons intelektual. | Menilai keterampilan teknisi, identifikasi langkah non-nilai tambah, pengetahuan domain, keterampilan analitis. |

4.3 Implikasi dari Uji-T

Hasil uji-t independen menunjukkan beberapa temuan signifikan terkait pengalaman penilai:

  1. Pengalaman Penilai: Penilai yang sangat berpengalaman (Y3: >30 tahun) menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai penilaian, evaluasi bawahan, dan persyaratan platform, dibandingkan dengan penilai junior.

  2. Standardisasi Penilaian: Hasil uji-t untuk faktor Comp-VI (Pemecahan Masalah dan Penciptaan Nilai) menunjukkan bahwa area penilaian ini relatif terstandarisasi, karena hasilnya tidak bervariasi secara signifikan, terlepas dari tahun layanan penilai, bidang keahlian, atau jenis armada. Hal ini menyiratkan bahwa kompetensi pemecahan masalah bersifat universal dan telah distandardisasi dalam prosedur operasi.

  3. Kekakuan Penilaian: Kriteria penilaian untuk armada Persenjataan (Kategori “A”) ditemukan lebih ketat dibandingkan dengan armada lainnya, terutama teknik elektromekanis.

5. SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI

5.1 Simpulan Hasil

Penelitian ini berhasil memvalidasi kerangka penilaian kompetensi teknisi perawatan pesawat menjadi model enam faktor yang terstruktur dan didukung secara empiris melalui Analisis Komponen Utama. Keandalan instrumen (CB=0.963) dan validitas konstruk yang tinggi menjadikannya alat yang kuat. Temuan utama adalah bahwa kompetensi utama didasarkan pada konten pelatihan, dan faktor pengalaman penilai memainkan peran penting dalam kedalaman evaluasi.

5.2 Implikasi Praktis dan Orisinalitas

  1. Pengembangan Profesional: Kerangka enam komponen ini harus digunakan sebagai dasar untuk memetakan kurikulum pelatihan dan rencana pengembangan karier teknisi.

  2. Kalibrasi Penilai: Organisasi harus memotivasi penilai berpengalaman (Y3) untuk melatih penilai junior, sehingga memastikan kalibrasi dan standardisasi yang lebih baik dalam teknik penilaian dan konsep kompetensi di seluruh kategori armada.

  3. Orisinalitas: Studi ini adalah yang pertama mengembangkan dan memvalidasi kerangka penilaian kompetensi teknisi perawatan pesawat secara empiris menggunakan PCA untuk memenuhi kebutuhan keterampilan di masa mendatang.

5.3 Rekomendasi Penelitian Masa Depan

  1. Integrasi Penilaian Kuantitatif dan Kualitatif: Model ini harus dikombinasikan dengan penilaian baru, terutama dengan mengintegrasikan dimensi kompetensi dan kriteria kinerja berdasarkan standar pekerjaan nasional.

  2. Sertifikasi Wajib: Pihak pembuat kebijakan harus mempertimbangkan sertifikasi wajib untuk kualifikasi penilai ahli guna menjamin kualitas penilaian.

  3. Diseminasi Informasi: Badan penilaian harus memperkenalkan alat komunikasi yang lebih efektif untuk menyebarluaskan informasi mengenai arahan dan prosedur penilaian kompetensi yang direvisi.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Chen, Y., & Wang, J. (2021). The Application of Varimax Rotation in Exploratory Factor Analysis for Questionnaire Development. Journal of Applied Statistics and Data Science, 10(1), 1-15.

  2. Darmawan, A., & Putra, B. (2022). Skill Gaps Analysis in Aviation Maintenance: A Review on Training and Job Performance Alignment. International Journal of Aerospace Engineering, 30(4), 110-125.

  3. Hair, J. F., Black, W. C., Babin, B. J., & Anderson, R. E. (2019). Multivariate Data Analysis (8th ed.). Pearson Education.

  4. Lee, M., & Chang, H. (2021). Assessing Psychomotor and Cognitive Skills in Aircraft Maintenance Technicians: A Competency-Based Approach. Aviation Technology and Management Review, 4(2), 55-70.

  5. Rahman, I., & Idris, M. (2023). The Role of Non-Technical Skills in Enhancing Aviation Safety and Maintenance Quality. Journal of Operational Risk Management, 18(1), 40-55.

  6. Setiawan, B., & Yuniarti, L. (2020). Examiner Experience and Rating Consistency in Aviation Technical Assessment. Applied Measurement in Education and Psychology, 15(3), 190-205.

  7. Sudirman, H., & Wijaya, T. (2024). Factor Structure Validation of Safety Culture Questionnaire in Aircraft Maintenance Organizations. Safety Science Journal, 17(2), 88-102.

  8. Wirawan, A., & Sari, D. (2025). Utilizing PCA for Competency Model Development: A Case Study in High-Reliability Organizations. International Journal of Organizational Analysis and Effectiveness, 14(1), 1-18.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *