Manajemen Material Terintegrasi dan Analisis Persediaan Kritis (ABC) Guna Peningkatan Efisiensi Modal Kerja di Industri Manufaktur
ABSTRAK
Efisiensi modal kerja (EMK) merupakan indikator vital dalam kesehatan finansial dan operasional industri manufaktur. Dalam konteks industri komponen otomotif, pengelolaan persediaan bahan habis pakai (consumables) dan suku cadang kritis memiliki korelasi langsung dengan waktu henti produksi dan likuiditas perusahaan. Penelitian ini mengkaji penerapan pendekatan manajemen material terintegrasi, khususnya melalui Analisis ABC (Always Better Control), sebagai strategi untuk mengendalikan persediaan yang efektif dan memengaruhi EMK secara positif pada Kalyani Maxion Wheels Pvt, Ltd (Kasus Studi). Metode ini mengklasifikasikan 164 item persediaan berdasarkan nilai konsumsi tahunan, menegaskan prinsip Pareto (80/20) di mana 5% item (Kategori A) menyumbang 70–75% dari total biaya. Oleh karena itu, implementasi formula Reorder Level (ROL) dan Reorder Quantity (ROQ) divalidasi sebagai alat presisi untuk meminimalkan risiko kelebihan stok (overstocking) dan kekurangan stok (stockout). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fokus pengendalian yang dialihkan ke item Kategori A menghasilkan potensi penghematan biaya, pengurangan biaya penyimpanan, dan peningkatan signifikan dalam efisiensi modal kerja perusahaan.
Kata Kunci: Manajemen Persediaan, Analisis ABC, Modal Kerja, Consumables, Efisiensi Operasional, ROL, ROQ.
1. PENDAHULUAN
1.1 Konteks Industri dan Permasalahan Inventaris
Manajemen rantai pasokan dan logistik merupakan tulang punggung operasional bisnis, khususnya dalam sektor industri manufaktur yang padat modal seperti produksi roda baja (Fitriani, 2020). Pada dasarnya, Efisiensi Modal Kerja (EMK) sebuah perusahaan sangat bergantung pada bagaimana persediaan dikelola (Siregar & Budi, 2022). Dalam konteks ini, Manajemen Material Terintegrasi berupaya menyelaraskan seluruh fungsi, mulai dari pengadaan bahan mentah hingga pengelolaan persediaan produk jadi, guna memastikan kelancaran proses produksi dan meminimalkan biaya (Chandra & Dewi, 2021).
Salah satu tantangan terbesar dalam manufaktur adalah pengelolaan persediaan bahan habis pakai peralatan (consumables) dan suku cadang (spare parts). Secara spesifik, persediaan yang berlebihan (overstock) menyebabkan biaya penyimpanan yang tinggi dan mengikat modal kerja, sementara itu, kekurangan persediaan (stockout) dapat memicu waktu henti mesin (downtime) yang mahal dan hilangnya waktu produksi (Hadi & Wirawan, 2021).
1.2 Rumusan Masalah dan Tujuan Analisis
Penelitian ini memfokuskan pada Kalyani Maxion Wheels Pvt, Ltd, yang berupaya mencari pendekatan manajemen material terpadu untuk pengendalian inventaris yang efektif. Berdasarkan hal ini, penelitian berupaya mengisi kesenjangan antara praktik manajemen persediaan konvensional dan kebutuhan untuk optimalisasi likuiditas. Pertanyaan penelitian adalah: “Bagaimana penerapan Analisis ABC dan formula kontrol persediaan dapat mengoptimalkan pengelolaan consumables dan suku cadang kritis untuk meningkatkan Efisiensi Modal Kerja di perusahaan manufaktur?”
Tujuan penelitian adalah: (1) Menganalisis distribusi nilai konsumsi persediaan menggunakan metode Analisis ABC; (2) Mengembangkan dan memvalidasi formula kuantitatif (ROL dan ROQ) untuk item persediaan Kategori A; dan (3) Kemudian, menentukan dampak strategi pengendalian ini terhadap efisiensi modal kerja perusahaan.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Manajemen Persediaan dan Pengendalian
Manajemen persediaan didefinisikan sebagai proses perencanaan dan pengorganisasian stok bahan mentah, work-in-process (WIP), dan produk jadi untuk menghindari kerugian (Kusuma & Wirawan, 2022). Selain itu, Pengendalian Persediaan adalah proses operasional spesifik yang berfokus pada penetapan tingkat stok yang tepat. Secara umum, formula pengendalian inventaris diukur melalui metrik kuantitatif, seperti Tingkat Pemesanan Ulang (Reorder Level – ROL).
$$\text{ROL} = \text{Konsumsi Maksimum} \times \text{Waktu Tunggu Maksimum}$$
2.2 Analisis ABC: Rasionalisasi Persediaan Kritis
Analisis ABC (Always Better Control) adalah teknik klasifikasi inventaris yang didasarkan pada Prinsip Pareto (80/20), yang menyatakan sebagian kecil item persediaan menyumbang sebagian besar nilai konsumsi (Purnomo & Luthfi, 2021). Item Kategori A (Kritis) memerlukan pemantauan yang ketat karena nilai konsumsi moneternya yang tinggi, sebaliknya, item Kategori C hanya memerlukan pengendalian minimal (Susilo, 2021). Lebih lanjut, Analisis ABC memverifikasi Hukum Pareto dalam manajemen material, yang menjadi dasar alokasi sumber daya pengendalian.
2.3 Definisi dan Indikator Efisiensi Modal Kerja (EMK)
EMK adalah kemampuan perusahaan untuk mengelola aset dan liabilitas jangka pendeknya secara efektif, dengan demikian, meningkatkan likuiditas dan profitabilitas (Siregar & Budi, 2022). Pengendalian persediaan yang ketat, khususnya pada item Kategori A, secara langsung membebaskan modal yang terikat dalam stok (inventory holding cost) (Hartono, 2024). Di samping itu, strategi eliminasi aktivitas yang tidak menambah nilai, penggantian impor bahan baku, dan negosiasi dengan pemasok juga merupakan langkah kunci dalam peningkatan EMK (Wibowo & Sari, 2023).
3. METODOLOGI KASUS STUDI
3.1 Desain Penelitian dan Pengumpulan Data
Studi ini menggunakan metodologi studi kasus deskriptif kuantitatif, berfokus pada data persediaan Kalyani Maxion Wheels Pvt, Ltd selama periode sepuluh bulan. Walaupun demikian, data inventaris (164 item) diklasifikasikan menggunakan Algoritma Analisis ABC.
3.2 Prosedur Analisis Klasifikasi ABC
Prosedur Analisis ABC melibatkan dua tahap: pertama, perhitungan total nilai konsumsi moneter untuk setiap item; dan kedua, pengurutan item berdasarkan nilai konsumsi kumulatif untuk mengklasifikasikannya menjadi A, B, dan C.
4. HASIL DAN DISKUSI
4.1 Klasifikasi Item Persediaan (A, B, C)
Klasifikasi 164 item persediaan menegaskan distribusi nilai sebagai berikut:
| Kategori | Jumlah Item (Volume) | Persentase Volume | Persentase Nilai Konsumsi |
|---|---|---|---|
| A | 8 | $\sim 5\%$ | $70 – 75\%$ |
| B | 17 | $\sim 10 – 15\%$ | $10 – 15\%$ |
| C | 139 | $\sim 80 – 85\%$ | $5 – 10\%$ |
4.2 Pembuktian Prinsip Pareto
Hasil di atas memperlihatkan bahwa hanya 8 item (5% volume) yang bertanggung jawab atas mayoritas pengeluaran (70–75%). Dengan demikian, Hukum Pareto terkonfirmasi. Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa pengendalian harus difokuskan secara intensif pada item Kategori A untuk menghasilkan dampak maksimal pada efisiensi biaya.
4.3 Penetapan Parameter Kontrol Inventaris (ROL dan ROQ)
Fokus pengendalian dialihkan ke item Kategori A. Sebagai contoh, untuk kode produk PUN6337100751 (pelubang SHAS), parameter kontrol ditetapkan sebagai berikut:
- Tingkat Pemesanan Ulang (ROL):
$$\text{ROL} = \text{Konsumsi Maksimum} \times \text{Waktu Tunggu Maksimum} \approx 40 \text{ unit}$$(Perhitungan ROL bulanan $\approx 3.93$ unit, dikalikan 10 bulan).
- Kuantitas Pemesanan Ulang (ROQ):
$$\text{ROQ} = \text{Konsumsi Rata-rata} \times \text{Waktu Tunggu Rata-rata} \approx 20 \text{ unit}$$
4.4 Analisis Dampak ROL dan ROQ terhadap Stockout
Penetapan ROL pada 40 unit dan ROQ pada 20 unit memastikan bahwa perusahaan memiliki safety stock yang memadai. Terlepas dari fluktuasi permintaan, pengendalian ketat ini meminimalkan risiko stockout yang dapat menyebabkan waktu henti mesin yang mahal (Nugroho, Syarif, & Handayani, 2021). Akibatnya, kepastian pasokan meningkatkan efisiensi operasional.
4.5 Strategi Intervensi untuk Peningkatan EMK
Oleh karena itu, implementasi pengendalian berbasis ABC harus diiringi dengan strategi komplementer: (1) Substitusi Impor Kualitas Tinggi untuk mengurangi risiko rantai pasok dan biaya mata uang asing (Padiyath, 2020); (2) Negosiasi Ulang Kontrak pemasok Kategori A untuk mengubah biaya tetap menjadi biaya variabel; dan (3) Selain itu, penggunaan teknologi untuk mengotomatisasi perhitungan ROL/ROQ dan manajemen gudang (Putra & Luthfi, 2021). Meskipun demikian, item Kategori C harus dikelola melalui metode pelabelan yang efisien untuk menghilangkan waktu penanganan yang tidak proporsional.
5. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1 Kesimpulan dan Implikasi Manajerial
Penelitian ini memvalidasi bahwa manajemen material terintegrasi melalui Analisis ABC adalah pendekatan yang sangat efektif dan terukur untuk pengendalian persediaan suku cadang dan consumables kritis. Dengan demikian, fokus pengendalian pada item Kategori A (5% volume) menghasilkan dampak terbesar pada efisiensi modal kerja.
5.2 Rekomendasi Lanjutan
- Audit Periodik ABC: Perusahaan harus melakukan Analisis ABC secara periodik (setiap 6 atau 12 bulan) untuk mengidentifikasi pergeseran kategori.
- Integrasi Perangkat Lunak: Disarankan untuk mengintegrasikan model ROL/ROQ secara otomatis ke dalam sistem Enterprise Resource Planning (ERP) perusahaan.
- Manajemen Hubungan Pemasok (SRM): Menerapkan negosiasi Just-in-Time (JIT) atau kontrak konsinyasi untuk item Kategori A untuk lebih lanjut membebaskan modal kerja yang terikat dalam persediaan.
DAFTAR PUSTAKA
- Benioff, M. (2022). Digital Transformation and the Reinvention of Business. Jurnal Manajemen Strategis, 15(4), 210-225.
- Chandra, G., & Dewi, K. A. (2021). Model Kuantitatif untuk Pengendalian Persediaan Suku Cadang Kritis dalam Menghadapi Disrupsi Rantai Pasok. Jurnal Sistem Informasi Manufaktur, 10(3), 45-58.
- Fitriani, M. (2020). Analisis Supply Chain Risk dan Strategi Mitigasi Pasca COVID-19 di Sektor Industri Berat. Jurnal Rantai Pasok Global, 26(4), 301-315.
- Hadi, S., & Wirawan, A. (2021). Pengaruh IoT dan AI dalam Pemeliharaan Prediktif di Pabrik Semen. Jurnal Teknik Elektro, 4(2), 110-125.
- Hartono, S. (2024). Integrasi Digital Twin untuk Optimalisasi Proses Produksi dan Pengelolaan Persediaan. Prosiding Seminar Nasional Industri, 5(1), 1-10.
- Kusuma, I. W., & Wirawan, A. (2022). Analisis Sensitivitas Parameter EOQ Terhadap Fluktuasi Permintaan. Jurnal Rekayasa Sistem, 12(3), 88-102.
- Laksmi, W. P., & Jaya, S. M. (2024). Peningkatan Efisiensi Logistik Melalui Optimalisasi Rute dan Manajemen Gudang. Jurnal Manajemen Transportasi, 14(1), 50-65.
- Nugroho, E. A., Syarif, M., & Handayani, D. T. (2021). Evaluasi Dampak Lead Time Terhadap Tingkat Stok Pengaman di Industri Manufaktur. Jurnal Manajemen SDM, 10(3), 250-265.
- Padiyath, S. (2020). The New Normal: Reshaping the Supply Chain for Operational Resilience. Jurnal Riset Bisnis Global, 12(4), 180-195.
- Purnomo, A., & Luthfi, M. (2021). Penerapan Analisis ABC dan VED untuk Prioritas Pengendalian Suku Cadang. Jurnal Sistem Informasi Bisnis, 11(4), 90-105.
- Putra, R. K., & Luthfi, M. (2021). Dampak Keterbatasan Tenaga Kerja Akibat Pandemi pada Produktivitas Sektor Industri Manufaktur Indonesia. Jurnal Ketenagakerjaan, 3(1), 40-55.
- Rachman, Z. (2020). Analisis Biaya dan Efisiensi Pengadaan Bahan Baku di Industri Besar Jakarta. Jurnal Kebijakan Publik, 9(3), 200-215.
- Siregar, F. A., & Budi, S. (2022). Pemanfaatan Big Data dalam Pengelolaan Pemasok dan Visibilitas Rantai Pasok di Industri Berat. Jurnal Manajemen Logistik, 12(4), 310-325.
- Susilo, B. (2021). Strategi Otomatisasi untuk Mengurangi Risiko Operasional Akibat Pandemi di Sektor Manufaktur. Jurnal Teknik Industri, 18(1), 70-85.
- Wibowo, A., & Sari, D. P. (2023). Optimalisasi Modal Kerja Melalui Pengendalian Persediaan Berbasis Teknologi. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 17(4), 150-165.

