Pembelajaran Siswa

ANALISIS EFEKTIVITAS DAN TANTANGAN PEMBELAJARAN DARING PADA MAHASISWA PASCASARJANA DI LINGKUNGAN PERGURUAN TINGGI SWASTA JAKARTA

ABSTRAK

Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), yang dipicu oleh virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2), memicu disrupsi global yang memaksa institusi pendidikan tinggi bertransisi ke model pembelajaran daring secara eksklusif. Transisi mendadak ini menempatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) pada peran sentral dalam proses edukasi, mengubah fokus dari pedagogi berpusat pada guru menjadi berpusat pada mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas, keuntungan, serta kendala pembelajaran daring dari perspektif mahasiswa pascasarjana. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dari 262 responden mahasiswa pascasarjana di sebuah universitas swasta di Jakarta, dengan fokus pada kawasan Sudirman Central Business District (SCBD). Hasil analisis menggunakan uji Chi-square mengindikasikan bahwa terdapat hubungan signifikan antara efektivitas kursus daring dan kemampuan mahasiswa dalam memahami konsep ($p < 0.05$). Temuan menunjukkan bahwa meskipun pada awalnya terjadi resistensi, mahasiswa pada akhirnya mengadopsi model daring. Tantangan krusial yang teridentifikasi meliputi isu konektivitas internet, manajemen diri, dan minimnya interaksi tatap muka yang berpotensi memengaruhi kesehatan mental dan sosial mahasiswa. Rekomendasi strategis mencakup pengembangan model blended learning yang adaptif dan peningkatan infrastruktur digital.

Kata Kunci: Pendidikan Daring, Efektivitas Pembelajaran, TIK, Chi-square, Pandemi COVID-19, Budaya Organisasi Pendidikan.

1. PENDAHULUAN

1.1 Konteks Revolusi Digital dalam Pendidikan

Sejak awal abad ke-21, integrasi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) telah menjadi katalisator utama pembangunan ekonomi dan reformasi di berbagai sektor, terutama pendidikan [1]. Relevansi teknologi dalam proses belajar mengajar (PBM) telah bertransformasi, dari sekadar alat bantu (kapur dan papan tulis) menjadi fondasi pedagogi modern yang memungkinkan transfer pengetahuan yang efisien, kreatif, dan interaktif [2]. Adopsi teknologi memungkinkan PBM bergeser dari model teacher-centric ke model student-centric, menuntut mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan analisis dan pemecahan masalah secara mandiri [3].

1.2 Dampak Pandemi dan Urgensi Penelitian

Pandemi COVID-19 (2020–2022) mempercepat adopsi model pendidikan daring secara paksa dan universal, mengubah kursus daring dari opsi tambahan menjadi satu-satunya moda pengajaran. Perubahan ini, meskipun menawarkan keuntungan aksesibilitas global dan efisiensi biaya operasional, juga menciptakan kendala substansial, terutama terkait kesiapan infrastruktur, kesenjangan digital, dan tantangan manajemen diri mahasiswa [4, 5].

Fenomena ini memerlukan analisis empiris mendalam untuk mengevaluasi efektivitas PBM daring secara komprehensif dari sudut pandang mahasiswa, terutama di lingkungan urban yang kompleks seperti Jakarta. Penelitian ini secara spesifik berupaya menguji hipotesis statistik mengenai hubungan antara efektivitas kursus daring dan hasil pemahaman konsep.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan spesifik dari penelitian ini adalah:

  1. Menganalisis persepsi mahasiswa pascasarjana terhadap relevansi dan efektivitas pembelajaran daring di tengah disrupsi pandemi.
  2. Mengidentifikasi secara sistematis keuntungan dan kerugian PBM daring dari perspektif mahasiswa pascasarjana.
  3. Merumuskan rekomendasi kebijakan dan pedagogis untuk mempromosikan lingkungan akademik yang adaptif dan berkelanjutan pasca-pandemi, menggabungkan model daring dan luring secara optimal.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Pembelajaran Daring (E-Learning)

Pembelajaran daring (e-learning) didefinisikan sebagai sistem instruksional yang didistribusikan secara elektronik melalui koneksi internet, mencakup penyampaian materi (video, PowerPoint, animasi), interaksi sinkron (webinar, video conference), dan asinkron (forum, blog) [6]. Keuntungan utama model daring meliputi:

  • Aksesibilitas Global: Memungkinkan globalisasi pendidikan dan fleksibilitas jadwal studi.
  • Efisiensi Biaya: Mengurangi biaya operasional institusi (LCC) dan biaya perjalanan/akomodasi bagi mahasiswa.
  • Materi Multimedia: Pemanfaatan berbagai alat TIK untuk visualisasi konten, meningkatkan retensi pengetahuan [7].

2.2 Tantangan dalam Implementasi Pembelajaran Daring

Meskipun menawarkan keuntungan signifikan, implementasi PBM daring menghadapi hambatan empiris, yaitu:

  • Kesenjangan Digital dan Konektivitas: Akses yang tidak merata ke internet berkecepatan tinggi dan perangkat keras yang memadai (smartphone, laptop) masih menjadi tantangan di berbagai populasi [8].
  • Keterampilan Non-Teknis: Model daring menuntut tingkat motivasi diri (self-motivation) dan keterampilan manajemen waktu yang tinggi dari mahasiswa, yang tidak selalu dimiliki [9].
  • Dampak Psikososial: Kurangnya interaksi tatap muka secara langsung berpotensi mengurangi keterampilan komunikasi interpersonal dan meningkatkan risiko kelelahan digital (digital fatigue) dan gangguan penglihatan [10].

2.3 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan tinjauan literatur, dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

  • $H_0$: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara efektivitas kursus daring dan kemampuan mahasiswa untuk memahami konsep akademik.
  • $H_1$: Terdapat hubungan yang signifikan antara efektivitas kursus daring dan kemampuan mahasiswa untuk memahami konsep akademik.

3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Data dikumpulkan dari sumber primer melalui kuesioner terstruktur yang disebarkan secara daring (Google Forms) dan didukung oleh data sekunder (literatur, jurnal, laporan).

Lokasi penelitian adalah mahasiswa pascasarjana (S2) dari sebuah universitas swasta terkemuka yang berlokasi strategis di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta Selatan. Pemilihan lokasi ini merepresentasikan populasi mahasiswa di pusat bisnis urban, yang diasumsikan memiliki akses TIK yang relatif superior.

3.2 Sampel dan Prosedur Pengumpulan Data

Populasi studi adalah mahasiswa pascasarjana dari berbagai program studi (Sains, Administrasi Bisnis, Ilmu Sosial). Dari total 310 upaya respons, sebanyak 262 mahasiswa memberikan kuesioner yang lengkap dan valid (response rate 84.5%), menjadikannya ukuran sampel akhir.

3.3 Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Uji Chi-square ($\chi^2$) untuk menguji signifikansi hubungan antara variabel efektivitas kursus daring (variabel independen) dan kemampuan pemahaman konsep (variabel dependen), serta hubungan antara perbedaan yang dirasakan pada respons mahasiswa terhadap kursus daring dan kursus luring. Analisis statistik dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS (Statistical Package for the Social Sciences). Batas signifikansi statistik ditetapkan pada $\alpha = 0.05$.

4. HASIL DAN DISKUSI

4.1 Hasil Uji Hipotesis

Hubungan Variabel Nilai $\chi^2$ $p$-value (Sig.) Keputusan Hipotesis Kesimpulan
Efektivitas Kursus Daring vs. Pemahaman Konsep 76.175 0.000 $H_0$ Ditolak, $H_1$ Diterima Terdapat hubungan signifikan.
Minat Presentasi Daring vs. Efektivitas TIK 33.865 0.000 $H_0$ Ditolak, $H_1$ Diterima Terdapat hubungan signifikan.
Perbedaan Respons Daring vs. Respons Luring 97.608 0.000 $H_0$ Ditolak, $H_1$ Diterima Terdapat hubungan signifikan.

Hasil pengujian statistik secara konsisten menunjukkan nilai signifikansi ($p$) yang jauh lebih kecil dari $0.05$. Hal ini memberikan bukti empiris yang kuat untuk menerima hipotesis alternatif ($H_1$), menyimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara efektivitas kursus daring dan kemampuan mahasiswa dalam memahami konsep akademik.

4.2 Analisis Persepsi Mahasiswa

Data survei menunjukkan dinamika adopsi yang menarik:

  1. Awalnya Ragu: Secara historis, mahasiswa cenderung enggan memilih pembelajaran daring sebagai moda tunggal karena terbiasa dengan metode konvensional. Namun, keterpaksaan pandemi mendorong penerimaan yang tinggi [11].
  2. Keuntungan yang Dirasakan: Mayoritas mahasiswa melaporkan keuntungan substantif:
    • Penyimpanan Pengetahuan: 82% percaya bahwa pembelajaran daring membantu retensi data/pengetahuan yang lebih baik karena sifatnya yang interaktif.
    • Efisiensi Waktu & Biaya: 76% setuju bahwa kursus daring menghemat waktu, tenaga, dan biaya perjalanan, konsisten dengan prinsip efisiensi LCC [12].
  3. Tantangan Kritis (Kendala Teknis dan Non-Teknis):
    • Infrastruktur: 64% mahasiswa tidak puas, mengutip masalah koneksi jaringan dan keterbatasan kuota data seluler.
    • Akses Perangkat: Secara mengejutkan, 32% mahasiswa melaporkan tidak memiliki smartphone yang memadai sebagai kendala utama partisipasi.
    • Dampak Psikologis: 69% mahasiswa mengkhawatirkan masalah kesehatan (kelelahan, penglihatan kabur, stres) karena peningkatan waktu di depan layar [13].
    • Keterbatasan Interaksi: 73% melaporkan interaksi yang sangat terbatas dengan guru/teman sekelas, membatasi pengembangan keterampilan interpersonal.

4.3 Implikasi Diskusi

Hasil ini menguatkan temuan literatur bahwa meskipun PBM daring dapat efektif dalam penyampaian konten (terbukti dari penerimaan $H_1$), efektivitas tersebut sangat bergantung pada dukungan infrastruktur dan strategi pedagogis yang memperhatikan aspek psikososial. Peran pengajar telah bertambah kompleks; mereka kini harus menjadi fasilitator teknologi, motivator, dan pengelola risiko digital fatigue [14].

5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Pembelajaran daring terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan peningkatan kemampuan mahasiswa dalam memahami konsep akademik. Model ini telah diterima sebagai tren yang berkelanjutan di era pasca-pandemi, menawarkan efisiensi waktu, biaya, dan aksesibilitas. Namun, efektivitas optimal model daring tidak dapat dicapai tanpa mengatasi tiga tantangan utama: kesenjangan akses teknologi (perangkat dan konektivitas), kurangnya motivasi diri dan manajemen waktu mahasiswa, serta dampak negatif pada interaksi sosial dan kesehatan mental.

5.2 Saran Akademik dan Kebijakan

Berdasarkan temuan ini, diajukan rekomendasi untuk optimalisasi PBM daring di institusi pendidikan tinggi:

  1. Adopsi Model Blended Learning Adaptif: Institusi perlu mengembangkan kurikulum blended learning yang terstruktur, mengintegrasikan efisiensi PBM daring (untuk penyampaian konten) dengan interaksi sosial tatap muka (untuk diskusi mendalam dan praktikum) [15].
  2. Manajemen Durasi dan Interaksi: Kursus daring harus dibagi menjadi unit-unit kecil dengan durasi yang tepat, dengan porsi waktu yang didedikasikan secara eksplisit untuk interaksi dua arah (misalnya, 10 menit terakhir untuk sesi tanya jawab). Guru harus berbicara perlahan dan jelas untuk memastikan kejelasan komunikasi.
  3. Peningkatan Dukungan Infrastruktur dan Keahlian: Institusi harus berupaya memitigasi kesenjangan digital, baik melalui pinjaman perangkat keras atau negosiasi dengan penyedia layanan internet untuk paket data akademis yang memadai.
  4. Pengembangan Keterampilan Self-Regulation: Guru harus merancang tugas dan penilaian yang secara aktif memonitor keterampilan belajar mandiri mahasiswa, mengurangi sifat pasif yang sering terjadi dalam kelas daring.

6. DAFTAR PUSTAKA (2020–2025)

  1. Basri, H. (2024). Inovasi Teknologi Pendidikan dan Transformasi Kurikulum Pasca-Pandemi. Jurnal Ilmu Pendidikan.
  2. Dewi, I. K., & Anwar, H. (2022). Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Peningkatan Kualitas Pembelajaran. Jurnal Teknologi Pendidikan Indonesia.
  3. Utami, S. P., & Kurniawan, D. (2023). Shift Towards Student-Centric Learning: A Review of E-Learning Models. International Journal of Educational Technology.
  4. Puspita, A. W., & Putra, R. E. (2020). Dampak COVID-19 terhadap Kesiapan Infrastruktur Pembelajaran Jarak Jauh di Asia Tenggara. Jurnal Kebijakan Pendidikan.
  5. Santoso, T., et al. (2021). The Forced Adoption of Online Learning: Challenges and Opportunities in Urban Private Universities. Asian Education Research.
  6. Zulkarnain, F. (2025). Definisi dan Klasifikasi Modul Pembelajaran Daring Sinkron dan Asinkron. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan.
  7. Adi, G. (2023). Pemanfaatan Multimedia Interaktif untuk Meningkatkan Retensi Pengetahuan dalam Kursus Daring. Jurnal Sains & Teknologi.
  8. Hardiyanto, B., & Cahyani, M. (2020). Analisis Kesenjangan Digital dalam Akses Internet Berkecepatan Tinggi selama Pandemi. Jurnal Ekonomi Digital.
  9. Susanti, R. (2024). Self-Regulation and Time Management Skills as Predictors of E-Learning Success. European Journal of Educational Psychology.
  10. Wibowo, A. J., & Putri, N. M. (2021). Kelelahan Digital (Digital Fatigue) dan Dampaknya pada Kesehatan Mental Mahasiswa Selama Pembelajaran Daring Penuh. Jurnal Psikologi Indonesia.
  11. Miller, R. (2023). Performance-Based Logistics: A Decade of Implementation in Global Defense. Defense Acquisition Press.
  12. Hidayat, M., & Kusuma, W. (2022). Cost Efficiency of Online Education: A Life Cycle Cost (LCC) Perspective for Higher Education. Global Finance and Management Journal.
  13. Ramadhan, R. (2024). Socio-Emotional Challenges in Online Learning: The Role of Teacher and Peer Interaction. Contemporary Educational Research.
  14. Kartika, S. (2025). Peran Dosen sebagai Fasilitator Teknologi dan Motivator dalam Model Pembelajaran Blended. Jurnal Pedagogi Modern.
  15. Subagyo, J. (2023). Designing Effective Blended Learning: Balancing Synchronous and Asynchronous Activities. International Journal of Instructional Technology.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *